DO’A MUSTAJAB
“Dan Tuhanku berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku
niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam
dalam keadaan hina dina.”
(QS. al-Mu’min/40:60)
***
Syaqiq Al-Balkha meriwayatkan, pada suatu hari Ibrahim Bin Adham -seorang ulama sufi sedang menelusuri pasar Bashrah. Orang-orangpun berkerumun mengitarinya ingin mena-nyakan masalah agama kepadanya. Mereka bertanya tentang firman Allah SWT; UD’UNI ASTAJIB LAKUM. (Berdo’alah kalian kepada-Ku, pasti Aku kabulkan). Mereka berkata; “Kami sudah cukup lama berdo’a, tapi do’a itu tidak terkabul juga.” Mendengar penuturan mereka, Ibrahim Bin Adham berkata; “Hati kalian telah mati dari sepuluh hal, (1) Kalian meyakini Allah SWT, tapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya, (2) Kalian membaca Kitab Allah, namun kalian tidak mengamalkannya, (3) Kalian mengaku memusuhi iblis, namun kalian mengikuti jejaknya, (4) Kalian mengaku mencintai Rasul, namun kalian meninggalkan atsar dan Sunnahnya, (5) Kalian mengaku mencintai surga, namun kalian tidak beramal untuk surga, (6) Kalian mengaku takut neraka, namun kalian tidak berhenti dari dosa, (7) Kalian mengaku bahwa maut pasti tiba, namun kalian tidak mempersiapkan diri, (8) Kalian sibuk membicarakan cela orang lain, namun kalian melupakan cela diri sendiri, (9) Kalian me-nikmati rizqi Allah, namun kalian tidak mensyukuri-nya, (10) Kalian mengubur orang mati, namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.” 1
Demikianlah nasehat Ibrahim Bin Adham yang sarat hikmah dan ilmu tentang pertanyaan yang sering kita ungkapkan sehubungan dengan do’a-do’a kita yang tidak terkabul. Dia memberikan satu pedoman berdo’a yang menekankan bahwa dikabulkannya do’a seseorang sangat dipengaruhi oleh akhlaq dan amal shalihnya sehari-hari.
Pada dasarnya firman Allah SWT di atas me-rupakan kebenaran dan kepastian yang tidak bisa disangkal, namun diperjelas lagi oleh beberapa Hadits yang mengemukakan tentang syarat dan faedah do’a, sehingga pengabulan do’a seorang hamba kepada Allah SWT sangat ditentukan oleh terpenuhinya beberapa ketentuan yang telah Dia gariskan. Seperti juga diisyaratkan dalam firman-Nya; “Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada o-rang-orang yang berbuat baik.” 2
Ayat ini memberikan penjelasan bahwa do’a harus dibarengi dengan sikap batin yang penuh harap dan berserah diri kepada Allah, dan perbuatan baik (ihsan) akan mendekatkan rahmat-Nya dengan terkabulnya do’a. Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Tiada seorang muslim di atas bumi berdo’a melainkan pasti diterima dan terhindar dari malapetaka, asalkan dia tidak ber-do’a akan suatu dosa atau untuk memutuskan silaturrahmi.” Kemudian seorang shahabat berkata; “Kalau demikian, kami akan memperbanyak do’a kepada Allah.” Nabi menjawab; “Sesungguhnya Allah amat banyak karunia-Nya.” 3 Riwayat lain menambahkan; “Atau do’a tersebut ditangguhkan pengabulannya.” 4
Maka, bila diperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa do’a seorang muslim akan dikabulkan jika memenuhi ketentuan Allah dan pengabulannya itu bisa dengan tiga cara
Pertama; Allah mengabulkan do’anya secara langsung begitu selesai dia sampaikan sesuai de-ngan permohonannya.
Kedua, ditunda sampai Allah menghendaki untuk mengabulkannya pada saat dia sangat membutuhkan, misalnya ketika tertimpa bahaya yang tidak disangka-sangka.
Ketiga,
ditangguhkan sampai datang Hari Kiamat sebagai catatan amalnya yang
dapat menyelamatkannya dari api neraka serta meringankan mizan kejelekannya.”5
Kedudukan dan Fungsi
Do’a
Adalah sunnatullah, kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan cobaan dan pengalaman pahit. Tidak jarang kita mengalami kegagalan dan keputusasaan akibat terbuai hawa nafsu dan perasaan bersalah yang berlarut-larut. Kadangkala problema hidup tersebut dapat di atasi dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Jika masalah itu belum juga terselesaikan, biasanya kita meminta pertolongan kepada sesama untuk meringankan beban tadi. Namun, setelah meminta pertolongan orang lain masih juga belum teratasi, maka pada saat inilah biasanya kita memohon kekuatan Allah Yang Maha Penolong. Demikianlah sifat manusia menjalani kehidupannya di dunia. Hal ini disinyalir Allah SWT dalam firman-Nya; “Allah hendak mem-berikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” 6
Karena sifat lemah inilah, tidak sedikit manusia yang terseret ke dalam lembah dosa dan tergoda oleh kehidupan dunia yang fana. Maka, bagi me-reka yang telah terjerumus mengikuti hawa nafsunya, Allah SWT memberi jalan bagi mereka untuk mengakui kelemahannya tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, sebagaimana firman-Nya; “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa-mu. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 7
Sifat manusia lainnya adalah berkeluh kesah dan tamak. Firman Allah SWT: ”Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir. Apa-bila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecu-ali orang-orang yang mengerjakan shalat.” 8
Dari ketiga sifat di atas, akan timbul beberapa karakter manusia dalam menyikapi problema kehidupan. Ada manusia yang selalu optimis dan selalu berserah diri hanya kepada Allah, ada juga manusia yang berputus asa dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT dengan tidak mau memohon kepada-Nya karena merasa dirinya kuat. Padahal Allah SWT sangat mengecam hamba-Nya yang membanggakan diri dan tidak mau berdo’a kepada-Nya, sebagai mana firman-Nya dalam Hadits Qudsi: ”Barang siapa yang tidak berdo”a kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya.” 9
Berdasarkan alasan inilah, berdo’a merupakan suatu kewajiban sekaligus merupakan kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya, lebih-lebih ketika ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Namun, tidak sedikit juga manusia yang berdo’a hanya pada saat ditimpa musibah saja dan bila kesulitan itu telah berlalu, mereka lupa akan nikmat Allah serta me-ninggalkan do’anya sama sekali. Firman Allah SWT; “Dan apabila manusia itu ditimpa kesulitan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya de-ngan kembali kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kesulitan yang pernah dimohonkan kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu...” 10
Maka, sudah selayaknya manusia memahami hakikat dan fungsi do’a, agar tidak terjerumus men-jadi orang-orang yang menyombongkan diri dan melebihi batas-batas Allah SWT. Karena sikap se-perti ini amatlah tercela di hadapan Allah. Do’a hanya dijadikan tempat pelarian untuk mendapatkan jalan keluar saja, bukan sebagai kebutuhan utama dalam kehidupannya. Padahal sebuah Ha-dits menyebutkan sabda Rasulullah SAW: “Do’a itu adalah ibadah.” 11 Artinya, selama hayat dikan-dung badan, kewajiban berdo’a tersebut merupakan salah satu dari tugas manusia yaitu ber-ibadah kepada Allah SWT.12
Karenanya,
kita dituntut untuk berdo’a kepada Allah dalam keadaan apapun sebagai
bukti ke-taatan kita kepada-Nya, disamping pengakuan kita akan ke-Maha
Rahiman-Nya mencurahkan kasih sayang kepada hamba-Nya yang menengadahkan
tangan memohon pertolongan-Nya. Sebuah sya’ir Arab menyebutkan, ALLAHU
YAGHDLABU IN TARAKTA SU-ALIHI... WA BANI ADAM HINA YUS-ALU YAGHDLABU...
(Allah akan murka bila kamu tidak memohon kepada-Nya... Tetapi manusia
akan marah bila ia diminta pertolongan...
)
Adab Berdo’a
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas 13 mengutip perkataan Ka’ab Al-Akhbar; “Kalian (ummat Islam) diberi tiga kelebihan yang tidak pernah diberikan kepada ummat sebelumnya (1) Para Rasul terdahulu diutus hanya untuk satu ummat tertentu, tetapi kalian menjadi saksi untuk seluruh ummat manusia, (2) Ummat terdahulu tidak diberi kelonggaran dalam menjalankan agamanya, sedangkan kalian mendapatkannya, (3) Ummat terdahulu hanya dikabulkan do’anya melalui Rasul mereka, tetapi kalian diberi perintah “Berdo’alah kalian masing-masing, niscaya Aku mengabulkan do’a kalian.” 14,15
Dengan keterangan ini, alangkah ruginya bila kita tidak mengamalkan perintah berdo’a setiap saat selama Allah SWT menghendaki dan seyogya-nyalah kita memperhatikan keutamaan dan adab berdo’a supaya selaras dengan maksud dan faedah do’a seperti yang Allah kehendaki.
Beberapa ayat Al-Quran menjelaskan bagaimana sikap batin ketika berdo’a, sebagaimana firman-Nya; “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap (akan terkabulnya do’a) dan cemas (dari adzab-Nya). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” 16
Dalam ayat ini dijelaskan tentang sikap sebelum dan ketika berdo’a yaitu bersegera dalam melakukan amal shalih serta sikap hati yang khusyu’ mengharap keridlaan Allah SWT dengan penuh harap (optimis) akan terkabulnya do’a kebaikan tersebut dan merasa takut akan adzab neraka, sehingga bersungguh-sungguh memohon untuk dijauhkan darinya.
Imam Al-Ghazali
dalam “Ihya Ulumuddin” me-ngemukakan adab berdo’a antara lain:
1) Hendaklah melakukannya
pada waktu yang uta-ma, seperti Hari Arafah, Bulan Ramadlan, Wak-tu
Sahur, Hari Jum’at dll.
2) Dilakukan dengan penuh khidmat, misalnya ke-tika bersujud dalam ketenangan hati.
3) Menghadap kiblat disertai penyerahan diri ke-pada Allah.
4) Merendahkan suara agar lebih terasa pengha-yatan dari do’a tersebut.
5) Menggunakan bahasa yang sederhana tetapi me-ngandung maksud yang disampaikan, dan lebih utama dengan do’a-do’a yang ma-tsur dari Nabi SAW.
6) Tawadlu’ dan khusyu’.
7) Meyakini do’anya pasti dikabulkan Allah dan tidak merasa bosan bila do’anya belum terkabul.
8) Selalu optimis dan penuh harap sehingga terus mengulangi do’a-do’anya.
9) Hendaklah memulai do’a dengan menyebut as-ma Allah, Hamdallah dan Shalawat pada Nabi SAW.
10) Sebelum berdo’a
diperintahkan untuk melaksa-nakan tazkiyatun Nafsi
(Pembersihan Jiwa) dari perbuatan yang menghalangi terkabulnya do’a,
misalnya dengan taubat, tidak memakan harta yang haram atau tidak berdo’a
yang mustahil menurut akal dan mencelakakan orang lain ke-cuali karena
didzalimi. 17
Ulama
lainnya juga mengemukakan pedoman berdo’a seperti Ahmad Ibnu Taimiyah
Al-Haramy dan Muhammad Bin Abdul Wahab An-Najdi dalam kitabnya “Majmu’at
At-Tauhid” menyusun delapan belas cara berdo’a yang langsung diambil
dari Ha-dits Nabi SAW, di antaranya;
Selain
adab berdo’a, dijelaskan pula lima belas waktu yang utama untuk berdo’a,
antara lain:
Untuk
itu perlu diperhatikan beberapa hal dalam melaksanakan ibadah do’a
ini agar tidak ragu-ragu lagi kita mengamalkannya setiap saat dan menjadi
kebutuhan ruhaniah yang essensi dalam kehidupan kita.
Pertama, Meyakini bahwa do’a adalah ibadah seperti juga ibadah mahdlah lainnya, bahkan dalam sebuah Hadits dijelaskan sabda Rasulullah SAW: “Do’a adalah intinya ibadah.” 26 Dan mereka yang tidak mau berdo’a termasuk orang yang menyombongkan diri dan dimurkai Allah SWT. 27
Setiap
do’a yang kita sampaikan pasti didengar oleh Allah SWT dengan memperhatikan
ketentuan dan syarat-syarat di atas sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah akan malu ke-pada hamba-Nya yang menengadahkan
tangan berdo’a kepada-Nya, kembali dengan tangan ham-pa.”
28
Kedua,
Menerapkan do’a bukan hanya dalam ucapan tetapi diwujudkan dalam perilaku
sehari-hari baik dengan menghindari perbuatan dosa dan maksiat ataupun
dengan amal shalih dan berserah diri kepada Allah SWT. Firman Allah
SWT: “Siapa-kah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
berdo’a kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata; “Sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
29
Ketiga, Melaksanakan do’a setiap saat, baik ketika ditimpa kesulitan hidup maupun ketika mendapat kenikmatan. Karena hal ini merupakan salah satu tanda syukur kita atas pemberian Allah SWT yang tidak terhitung banyaknya, disamping juga sebagai pengakuan kita atas kemahakuasaan-Nya, kemaha rahiman-Nya dan Asmaul Husna milik-Nya, firman Allah SWT: “Hanya milik Allah-lah Asmaul Husna (nama-nama yang baik) maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul Husna.” 30
Serta dengan do’a dan dzikir, kita akan terhindar dari sifat orang yang lalai, sebagaimana firman-Nya; “Dan sebutlah (nama Tuhanmu) dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan de-ngan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” 31
Sudah saatnya kita mengingat kembali do’a-do’a yang telah kita lupakan dan mengulanginya sebagai sebuah ibadah dan amal shalih yang penuh dengan hikmah dan manfaat.
ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI WAL BUKHLI WAL HA-RAMI WA ‘ADZABIL QABRI, ALLAHUMMA ATI NAFSI TAQWAHA WA ZAKKIHA ANTA KHAI-RU MAN ZAKKAHA ANTA WALIYYUHA WA MAULAHA.
ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN ‘IL-MIN LA YANFA’ WAMIN QALBIN LA YAKH-SYA WA MIN NAFSIN LA YASYBA’ WA MIN DA’WATIN LA YUSTAJABA LAHA.
(Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ke-lemahan dan malas, kikir dan
ketuaan serta siksa kubur. Ya Allah, curahkanlah ke dalam hatiku taqwa
dan pensucian dari dosa, Engkau sebaik-baiknya yang mensucikan hati,
Engkau Pelindung dan Penguasanya. Ya Allah, aku berlindung ke-pada-Mu
dari ilmu yang tidak bermanfaat dan hati yang tidak khusyu’, dan nafsu
yang tidak puas serta dari do’a yang tidak diterima) Amien Ya Rabbal
‘Alamien.
***
IKHTIAR DAN DO’A
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahrirrijal.”
(Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari
rundungan sedih dan duka, aku berlindung
kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku
berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang
dan penindasan orang).
***
Al-Imam Al-Syahid Hassan Al-Banna seorang aktifis pergerakan Ikhwanul Muslimin dan tokoh ulama Mesir mencantumkan untaian do’a di atas dalam kitabnya “Al-Matsurat” yang berisi kumpulan dzikir dan do’a bagi kaum muslimin terutama yang bergerak langsung dalam bidang da’wah, karena mereka akan banyak me-ngalami tantangan dari berbagai arah, bahkan dijelaskan dalam “Al-Wazhifat Al-Kubra” (Ke arah memahami Al-Matsurat) bahwa dengan mengamalkan wirid qurani, wirid matsurat dan do’a rabithah, jiwa, akal, emosi dan jasad para pengemban da’-wah akan memperoleh curahan rahmat dan berkah serta akan meneguhkan ikatan ukhuwah Islamiah dengan pemahaman dan pengamalan kandungannya.32
Ketika manusia lahir ke dunia ini semuanya sama lemah tidak berdaya dan hanya berbekal harapan hidup. Kemudian jalan hidup pun kita jalani dengan kompetisi menuju satu maksud dan tujuan yaitu meraih kebahagiaan, sehingga satu sama lain mempunyai pengalaman yang berbeda, status sosial yang tidak sama serta tingkat kehidupan yang beragam.
Sering kita saksikan suasana kehidupan yang sangat mencolok, namun hal ini jangan dijadikan kecemburuan sosial yang menimbulkan pertenta-ngan kelas di masyarakat. Tapi juga jangan dibiarkan menjadi sebuah kewajaran yang tidak teratasi. Status hidup sangat ditentukan oleh besar tidaknya usaha manusia ke arah perubahan yang lebih baik, sebagaimana firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.” 33 Namun seberapa besar upaya manusia merubahnya, tidak bisa lepas dari keputusan yang Maha Kuasa. Karenanya, ikh-tiar manusia tidak cukup dengan ikhtiar badani saja, tapi harus dibarengi dengan permohonan ke-kuatan mencapai apa yang diharapkan. Jadi, ikh-tiar dalam kasab dan ikhtiar dalam do’a mutlak harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mengu-bah keadaan hidupnya.
Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi dijelaskan peran ibadah (baca: do’a) sangat besar dalam kehidupan seorang manusia. Firman Allah: "Wahai anak cucu Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku pasti hatimu akan kucurahkan ketenteraman dan lebar dada serta aku akan menutupi keadaanmu. Tapi jika kamu tidak beribadah ke-pada-Ku, Aku akan bebankan kepadamu kesibukan-kesibukan dan tidak pernah Kututupi kebutuhanmu." 34
Manusia kerap mengalami ketegangan dalam berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat sekelilingnya, baik secara langsung atau akibat lain yang membebani langkahnya. Karena itu Allah SWT dengan kemurahan-Nya membekali manusia dengan akal dan bimbingan wahyu yang secara lengkap diberikan contoh figur Rasulullah SAW.
Tapi setelah mengalami perjalanan hidupnya, banyak manusia yang tergoda oleh sampah duniawi dan terjerumus dalam perangkap Iblis la’natullah, sehingga menyimpang dari tujuan pokok yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi manusia sesat yang kehilangan pegangan. Sebab itu hubungan dengan Allah perlu diperkuat agar mendapat kemantapan dalam jiwanya. Manusia disuruh agar senatiasa berdo’a dan bermunajat kepada-Nya dengan memohon petunjuk-Nya setiap saat.
Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid, dilihatnya seorang shahabat duduk tepekur berdzikir, terlihat khusyu’ dengan mata dibasahi air mata kebimbangan. Setelah didekati, ternyata dia adalah Abi Umamah Al-Bahily salah seorang shahabat yang dikenal tegar memperjuangkan dan membela Islam. Rasul pun bertanya: "Apa gera-ngan yang menyebabkan kedukaan ini ?" Diapun berkisah: ”Wahai Rasulullah, aku ini seorang yang terlilit hutang teramat banyak sehingga aku tidak mampu melunasinya.” Rasulullah tertegun, kemudian bersabda; "Maukah kau kuajarkan sebuah do’a yang bisa membuat hatimu tenteram dan menghilangkan kegelisahanmu ?" Abu Umamah mengangguk, maka Rasulullah membacakan do’anya: “Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazan waa'udzu bika minal 'ajzi walkasali wa a'udzubika minal bukhli wal jubni wa a'udzu bika min ghalabatiddain wa qahririjal.” (Ya Allah, aku ber-lindung kepada-Mu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang).
Ternyata do’a pendek itu mampu membangkitkan gairah hidup Abu Umamah yang hampir terperosok dalam jurang keputusasaan dan rasa stress yang kronis. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyingsingkan lengan bajunya untuk meng-aplikasikan do’a yang telah dia terima dari seorang utusan yang agung. Dia memahami betul makna dan maksud do’a yang sarat hikmah dan nasehat yang tinggi nilainya. Akhirnya dia menjadi seorang shahabat yang selalu optimis menghadapi kehidupan dan tidak pesimis atau putus asa dengan keadaan yang telah menimpanya, sehingga ia termasuk salah seorang yang disebutkan dalam Al-Quran "Yaitu mereka yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami memberi petunjuk kepada mereka dan sesungguhnya Allah bersama orang yang berbuat baik.” 35
Al-hammi dalam do’a di atas adalah rasa khawatir dan resah menghadapi kejadian yang akan menimpa sebelum terjadi. Pepatah mengatakan “kalah sebelum bertanding", akibatnya selalu meng-ganggu pikiran dan menjadi beban hidup. Seharusnya seorang mu’min tidak gelisah menghadapi masa depan dan selalu berkeyakinan Al-ghadd biyadillah (masa depan di tangan Allah), sehingga tetap optimis menghadapi masa depan dengan usaha semaksimal mungkin.
Al-Hazan adalah kebingungan atas apa yang telah terjadi, terus larut dalam kesedihan yang ber-kepanjangan. Akibatnya jalan hidup tertutup dan hidup hanya berandai-andai dalam lamunan ham-pa. Sebuah sya'ir Arab menyebutkan:"Yang lalu biarlahlah berlalu, masa depan belumlah tahu, yang ada hanyalah sekarang yang sedang kau jalani."
Al-’Ajzi ialah perasaan lemah tidak berdaya. Melihat orang lain maju tidak jadi pemicu gairah kerja, tetapi menimbulkan rasa rendah diri dan ketidakmampuan. Padahal setiap manusia diberi kelebihan dari yang lainnya.
Al-Kasal artinya tidak punya kemauan atau sifat malas yang tanpa alasan. Rasa malas ini lahir ketika melihat pekerjaan yang dia pandang tidak sanggup melaksanakannya. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan kerja sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, sehingga semangat kerja tetap stabil dan bergairah selalu.
Al-Bukhli berarti kikir, di mana seseorang telah meraih apa yang dicita-citakan, dia lupa daratan dan tidak ingat kejadian asalnya serta melupakan jasa orang kecil yang membantunya mencapai kesuksesan.
Al-Jubn adalah sifat rakus dan pengecut akibat rasa takut hilangnya harta atau jabatan yang ada dalam genggamannya. Berat rasanya dia tinggalkan kekayaan yang dia raih. Akibatnya menjadi seorang manusia yang diliputi rasa takut dan muncul sifat sombong dengan hasil usahanya tersebut.
Ghalabatu dain ialah terlilit hutang seperti yang terjadi pada Abu Umamah. Dengan menghindari diri dan berlindung kepada-Nya dari sifat Al-Hamm, Al-Hujn, Al-’Ajzi, Al-Kasal, Al-Bukhl dan Al-Jubn akan mudahlah dia menyelesaikan masa-lahnya serta bisa melunasi hutang-hutangnya.
Yang terakhir ialah Qahr ar-Rijal yaitu mohon perlindungan dari penindasan manusia disebabkan menurunnya martabat karena berhutang, menge-mis dan lain-lain. Dengan permohonan ini, ia akan menjadi manusia yang terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia.
Demikianlah,
apabila manusia dapat menjauhi sifat-sifat di atas dan mengamalkannya
baik dalam do'a maupun ikhtiar, pastilah akan tercapai kebahagiaan yang
diharapkan serta hilanglah rasa tertekan atau stress yang menjadi penyakit
masyarakat modern sekarang ini dan menjadi manusia yang selalu optimis
menghadapi masa depan. Insyaallah.
***